Kagumi Cintai Lindungi

Mari Bersama Mencintai dan Melindungi Mereka

4 Primata Endemik Mentawai Terancam HPH

Ditulis oleh pecintasatwalangka di/pada Mei 18, 2008

cegah satwa punah 
Kepulauan Mentawai yang diperkirakan terpisah dari Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang masih menyatu dengan daratan Asia pada zaman Pleistosin atau Zaman Es, kira-kira satu juta sampai 10 ribu tahun silam, menyebabkan flora dan faunanya terperlihara dari perubahan-perubahan evolusi dinamis. Salah satu

keunikannya adalah terdapatnya empat primata yang berukuran lebih kecil dibanding primata biasa.

Keempat primata endemik itu dikenal dengan nama bilou atau siamang kerdil (Hylobates klossii), joja atau lutung Mentawai (Presbytis potenziani), simakobo (Simias Concolor), bokoi atau beruk Mentawai (Macaca pagensis).

Keempat primata ini dulunya tersebar di empat pulau di Mentawai, tapi kini hanya tersisa di Pulau Siberut. Sayangnya, meski Pulau Siberut telah ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer pada 1981, keempat jenis primata endemik ini masih terancam punah, karena

Menteri Kehutanan kembali mengeluarkan izin HPH (hak pengusahaan hutan) skala besar seluas 49.440 di Siberut Utara untuk PT Salaki Summa Sejahtera pada Desember 2003.

Sebelumnya dan ironisnya sebagai lembaga perguruan tinggi, pada 2001 Universitas Andalas juga memiliki HPH seluas 49.650 hektare yang kini sedang giat membabat hutan Siberut dan menghancurkan habitat primata ini.

Karena areal kedua HPH ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Siberut (TNS), Kepala Balai TNS Tri Prasetyo sangat mengkhawatirkan nasib keempat primata ini. Dari data terakhir TNS, pada 1999 jumlah bilou di Siberut hanya tinggal 8.300 ekor, joja 2.200 ekor, simakobu 1.600 ekor, dan bokoi 3.000 ekor.

Menurut Tri, adanya dua HPH raksasa tersebut akan makin mempercepat kepunahan primata itu. Ia mengkhawatirkan, kematian primata itu bisa disebabkan stres karena mendengar suara alat berat dan tidak bisa melarikan diri karena pohon tempat tinggal mereka dibabat.

Walaupun masyarakat Siberut juga sangat gemar berburu dan memakan primata ini, menurut Tri, masyarakat masih menggunakan alat panah tradisional, beda sekali dengan alat berat milik perusahaan HPH yang membabat habis hutan habitat primata.

“Sekali permata itu lenyap, selama-lamanya kita akan kehilangan binatang-binatang langka tersebut dari muka bumi,” kata Tri. l ynt

Bilou atau siamang kerdil (Hylobates klossii)
Merupakan jenis gibon yang paling primitif. Primata ini yang terkenal dari Mentawai karena pandai bernyanyi. Nyanyian yang bersahut-sahutan selama 10 menit hingga dua jam ini berisi 12 not dan sebuah trill yang menyemarakkan hutan pagi hari. Nyanyian bilou betina dijuluki nyanyian terindah yang dilantunkan mamalia darat.

Secara anatomis, bilou adalah jenis ungko tertua yang masih hidup dengan bulu-bulu yang jarang berwarna hitam gelap dan punya selaput antara jari kedua dan ketiga.

Bilou memerlukan ragam pohon-pohonan hutan dewasa yang dapat menyediakan berbagai jenis makanan dan buah-buahan yang masak sepanjang tahun. Pohon besar menjadi tempat tidurnya dengan kanopi yang bersambungan sebagai tempat berjalan-jalan.

Joja atau lutung Mentawai (Presbytis potenziani)
Joja mempunyai bentuk yang paling indah di antara primata endemik, dengan punggung hitam berkilat, bagian perut berwarna cokelat tua, putih sekitar muka, dan leher serta ekor yang panjang dan hitam seperti sutra.

Meski termasuk dalam genus tropis Asia yang besar dan menyebar luas, joja memiliki keunikan dalam banyak hal. Betina dewasa ikut serta dengan jantan pasangannya dalam pekikan dan peragaan tantangan terhadap kelompok lain. Tidak seperti ungko dan lutung jenis lain, karena jantan saja yang melakukan kedua hal tersebut.

Joja hampir sepanjang hidupnya tinggal di pohon dan jarang sekali turun ke tanah. Makanannya terdiri dari setengahnya berupa buah-buahan, 35 persen daun-daunan, dan 15 persen biji-bijian, kacang, bunga, dan materi tumbuhan lainnya.

Simakobo (Simias concolor)
Monyet ini termasuk keluarga bekantan. Simakobu sangat berlainan dari bekantan karena ekornya yang pendek menyerupai ekor babi, badan yang gemuk pendek dan anggota-anggota badan yang sama panjang. Semua ini merupakan penyesuaian bagi kehidupan di atas tanah, dan simakobu memakan daun dan hidup di atas pohon.

Simakobu sangat mudah diburu. Seekor simakobu seringkali melarikan diri dalam jarak dekat saja dan kemudian duduk bersembunyi dalam kanopi, sehingga menjadi sasaran empuk bagi pemburu. Simakobu diburu dua kali lebih banyak dibanding jenis lainnya. Jika satu kelompoknya melarikan diri, betinanya akan tertinggal di belakang sehingga jenis betina simakobu lebih sering dibunuh daripada jantannya. Ini keadaan yang merugikan untuk perkembangbiakan simakobu.

Bokoi atau beruk Mentawai (Macaca pagensis)
Bokoi amat erat hubungannya dengan beruk yang ada di Sumatera, Kalimantan, dan Asia Tenggara, tetapi mempunyai bulu yang paling gelap yang kontras sekali dengan bagian pipi yang putih serta pekik yang unik. Beruk biasanya hanya hidup di pulau-pulau besar dan sangat luar biasa bagi bokoi karena bisa hidup di pulau-pulau kecil seperti Siberut.

Jenis ini paling kurang diteliti karena tempat tinggal mereka yang meliputi daerah yang luas. Satu kelompok bokoi terdiri dari 30 individu. Kelompok-kelompok membagi diri menjadi grup-grup kecil untuk mencari makanan dan bergabung dengan kelompoknya masing-masing di malam hari.

Bokoi memakai daerah habitat yang lebih luas, dari daerah mangrove ke hutan primer sampai pada hutan yang ditebang dan ladang manusia, tempat mereka bisa menemui makanan.

Cintai mereka jangan biarkan mereka punah dengan bergabung dengan team cegah satwa punah dot com

sumber : korantempo
foto : wikipedia

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>